Senin, 17 Mei 2010

Mumpung Belum Banyak Korban


LUBUKLINGGAU, MS
KEKHAWATIRAN warga Kelurahan Lubukbinjai, Lubuklinggau Selatan I, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, akan jembatan jantung di wilayahnya bakal menelan korban, akhirnya terjadi juga. Peristiwa celaka yang untungnya belum sampai merenggut korban jiwa itu dialami Sinem, guru SDN Lubukbinjai. Mumpung belum banyak korban, mungkin ada baiknya bila jembatan ini diperbaiki.
Dewi, warga kelurahan Airkuti, Kamis (8/4), menceritakan Sinem terjatuh dari jembatan gantung saat pulang mengajar dua minggu lalu. Akibatnya Sinem luka-luka dan tidak dapat berjalan.
Menurut Dewi, jembatan gantung yang berada dekat rumahnya ini merupakan akses penghubung Kelurahan Air Kuti dengan Kelurahan Lubuk Binjai. kurun 4 tahun terakhir, Dewi menghitung jembatan gantung ini sudah dua kali direhab. Saat perehaban, tidak semua papan diganti, melainkan hanya yang lapuk-lapuk saja. “Setelah itu baru dicat,” terang Dewi. “Sekarang kondisi jembatan gantung tersebut sudah jelek dan sangat memprihatinkan.”
Lurah Air Kuti Muhaimin, mengatakan jembatan tersebut sudah masuk wilayah Kelurahan Lubukbinjai. Sekarang jembatan gantung tersebut sudah ditangani oleh dewan. “Saya tidak bisa banyak menjelaskan,” kata Muhaimin. “Karena takut dibilang usil.” Sementara Lurah Lubukbinjai dan Camat Lubuklinggau Selatan I, belum dapat dikonfirmasi. (Amsul Efendi)

Ulurawas Kaya SDA


MUSIRAWAS, MS
            PERUT bumi Ulurawas, Musirawas, Provinsi Sumatera Selatan, menyimpan potensi sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Menurut Camat Ulurawas H Daut, selain pertanian dan perkebunan karet, kecamatannya memiliki emas, timah putih, timah hitam, batu besi, migas, sampai batubara. “Selain itu disini juga memiliki objek wisata yang eksotik yaitu goa Napallicin,” katanya.
            Sayangnya potensi yang berlimpah itu belum tergarap maksimal. Untuk itu, H Daut menegaskan pihaknya akan berupaya sekuat tenaga dan berkoordinasi dengan Pemkab dan Pemprov untuk mengelola kekayaan alam ini.
            Ditambahkan, saat ini untuk kebutuhan sehari-hari seperti beras, sayur, dan cabe, masyarakatnya sudah tidak mengalami kesulitan. Hanya saja untuk kebutuhan lainnya seperti gula pasir, garam, minyak, masih tergantung dengan kondisi  sarana transportasi jalan. “Apabila jalan mulus kebutuhan masyarakat Ulurawas terjamin,” ucapnya.
            Adapun mengenai penerangan listrik PLN, H Daut mengungkapkan pemerintah tak perlu bersusah hati, karena selama ini masyarakat sudah terbiasa menggunakan lampu petromaks. Hanya saja, mengenai sarana transportasi, H Daut menekankan perlu keseriusan pemerintah, karena lokasinya merupakan perbukitan, lagipula kondisi tanah labil, dan tidak bisa dikoral. “Setiap hujan aliran air akan menghanyutkan koral,” katanya.
            Untuk bidang pertanian, H Daut berharap adanya pembinaan dari dinas terkait kepada petani di kecamatan Ulurawas. Sehingga ribuan hektar lahan pertanian dapat dikelola dengan baik dan petani dapat panen 3 kali setahun. “Bila ini terwujud, saya yakin Ulurawas akan jadi lumbung padi, yang tentu saja dampaknya kesejahteraan petani akan meningkat,” demikian H Daut. (Arpandi)

Sungai Tupak Meluap, Petani Gagal Panen


MUSIRAWAS, MS
SEDIKITNYA 200 hektar sawah di Desa G 2 Dwijaya dan J Ngadirejo, Tugumulyo, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, mengalami gagal panen. Menurut Kepala Desa G2 Dwijaya, Pulung, hal ini disebabkan karena luapan air Sungai Tupak yang merendam tanaman padi.
”Sawah mengalami gagal tanam, ada juga yang sampai 3 kali tanam, namun tidak berhasil,” kata Pulung, Jumat (28/4). “Hal ini terjadi bukanlah yang pertama, tapi sudah berulang kali.” Mengantisipasi masalah ini, Pulung mengaku sudah sering melapor ke KUPT pengairan untuk melakukan pengerukan Sungai Tupak. “Tapi sampai sekarang Sungai Tupak belum pernah dikeruk,” tambahnya.
Bosan menunggu perhatian pemerintah, Pulung pernah mengerahkan 300 warga bergotong royong selama 5 hari untuk membersihkan Sunga Tupak, seperti membuang kayu-kayu yang tumbuh di sungai tersebut. Tapi karena keterbatasan tenaga, tidak semuanya dapat dibersihkan. “Panjang Sungai Tupak ini mencapai lima belas kilo meter,” ungkapnya, tetap berharap pemerintah ada perhatian atas masalah ini sehingga warga dapat menggarap sawah tanpa khawatir bakal terendam. (Amsul Efendi)http://mediasumateranews.blogspot.com

Jalan Dwijaya Tergenang Air



MUSIRAWAS, MS
            JALAN poros Desa G2 Dwijaya, Tugumulyo, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, rusak parah. Saat ini jalan yang direhab tahun 2008, sudah berlobang dan tergenang air. Kepala Desa G2 Dwijaya, Pulung, menjelaskan sedikitnya 30 titik jalan mengalami kerusakan. Kerusakan paling parah terletak dekat kebun karet dan jembatan. Di titik ini sebagian aspal terkelupas dan menyisakan tanah merah. “Jalan rusak mungkin karena mutu perehabannya dulu kurang bagus,” duga Pulung, Jumat (23/4). Pulung berharap jalan ini diperbaiki. (Amsul Efendi)http://mediasumateranews.blogspot.com
           
           
           

Badan Jalan Menyempit

LUBUKLINGGAU, MS
MENGURANGI angka kecelakaan lalu lintas, di tahun 2009, Pemerintah Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, melalui Dinas PU Bina Marga telah menganggarkan dana Rp 400 juta untuk membangun median jalan Ahmad Yani.
Menurut PPTK Ali Sobron, Senin (15/3), panjang median jalan 900 meter lebih, lebar 60 centi meter, serta tinggi 35 centi meter. Titik nol dimulai dari depan Rumah Makan Telago sampai ke depan Hotel Wijaya, tanpa ada yang terputus. Mengenai adanya pemutusan median di Simpang Kenanga II, Batubara dan Simpang Jalan Nangka, Ali Sobron menjelaskan hal itu dilakukan atas koordinasi dengan LLAJ. “Yang menentukan batas-batasnya orang LLAJ, kami menuruti saja perintah orang Dinas Perhubungan,” katanya.
Sedangkan Kabid PU Bina Marga, K Baheramsyah, Sabtu (24/4) menerangkan petunjuk pembuatan median jalan, lebar jalan harus 15 meter. Dengan adanya median, lebar kiri kanan jalan harus menyisakan 7 meter. “Namun kalau kurang dari 7 meter pun tidak apa-apa,” kata K Baheramsyah.
Sementara Kepala Unit Pelaksana Tehnis Dinas Jaringan Jalan dan Jembatan (KUPTD PJ3) Kota Lubuklinggau, melalui Seksi Jalan, Mulatiarman, membeberkan jalan baru bisa dibuat median bila memiliki lebar 15 meter. Kalau kurang dari itu, Mulatiarman menegaskan median jalan tidak bisa dibuat karena akan mempersempit badan jalan serta mengganggu arus kendaraan di saat ada kendaraan yang berhenti.
Pantauan MS, dengan adanya median jalan ini, selain badan jalan terlihat sempit, juga sering terjadi pelanggaran lalu lintas. Seperti diakui YS, warga Kelurahan Kenanga. Menurutnya karena simpang Kenanga I ditutup, untuk menuju ke arah Simpang Tiga Lintas ia sering melawan arah karena enggan keliling ke Simpang Kenanga II. “Idealnya setiap Simpang jangan ditutup. Untuk kelancaran lalu lintas bisa saja pemerintah memasang lampu merah di Simpang yang padat arus kendaraannya,” katanya. (Amsul Efendi/Nasrullah)

Camat Rawasulu Jalankan Program

MUSIRAWAS, MS
SEJAK dilantik 18 Maret lalu, Camat Ulu Rawas, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, Y.Mori, terus melakukan kegiatan dan mengajak warganya untuk bersama-sama memajukan wilayah yang dipimpinnya. Menurut Y Mori, hal terpenting dalam programnya adalah berupaya memajukan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu ia mengaku telah menggiatkan kelompok tani di setiap desa. Selain itu, untuk menyukseskan program Musirawas Darussalam, setiap desa juga telah digalakkan pengajian. (Arpandi)

Jalan Sungaibunut Berlobang


MUSIRAWAS, MSMedia Sumatera News
WARGA Desa Sungaibunut, BTS Ulu, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, mengeluhkan sarana transportasi jalan di desa mereka rusak berat. Pantauan MS, banyak ditemui badan jalan berlubang dengan kedalaman 30 sampai 40 centi meter dengan panjang antara 1 sampai 5 meter.
Menurut Anto, seorang sopir, keberadaan jalan ini sangat penting artinya bagi warga setempat, karena hampir setiap hari melalui jalan yang rusak itu untuk mengangkut hasil bumi ke Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan. “Dengan rusaknya jalan mengakibatkan mobil kami sering rusak,” kata Anto, Jumat (28/4). “Harapan saya siapapun yang menjadi Bupati ke depan agar dapat memperhatikan kondisi jalan kami.’’
Sedangkan Majit, warga Sungaibunut, menduga kerusakan jalan disebabkan pembangunan jalan tidak disesuaikan dengan kapasitas kendaraan yang melintas. Diceritakan jalan rusak karena sering dilalui mobil berat yang mengangkut material pembangunan jembatan di Desa Pangkalantarum, BTS Ulu.
            Sementara Kepala Desa Sungaibunut, Jamilah, berharap sarana transportasi di desanya diperbaiki. Selain itu, Jamilah juga meminta jembatan papan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat di jalan yang rusak itu juga dibangun permanen. (Ari Suprianto)

© 2008 Por *Templates para Você*